Daihatsu Masters 2019, Jadi Laga Pamungkas Liliyana Natsir

Daihatsu Masters 2019 tampaknya akan menjadi pertandingan pamungkas bagi atlet Liliyana Natsir yang terkenal dengan medali emasnya. Nama Liliyana Natsir tentunya sudah tidak asing lagi di dunia bulutangkis terutama Indonesia. Ia membuat keputusan yang memancing perhatian dari dunia olahraga yaitu memutuskan untuk pensiun dari badminton. Daihatsu Indonesia Masters yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta tanggal 22-27 Januari 2019 akan menjadi turnamen terakhir baginya untuk berlaga.

Liliyana alias butet sudah berkecimpung di dunia bulutangkis sejak tahun 2002, 17 tahun lebih di dunia badminton membuat ia tau seluk beluk mendalam tentang olahraga ini. Yuni Kartika (Kabid Humas PP PBSI) mengatakan bahwa ajang Daihatsu Indonesia Masters akan menjadi acara perpisahan bagi Butet.

Rencananya, perpisahan tersebut akan diadakan pada hari minggu (27/1/2019) satu jam sebelum final. Acara ini diselenggarakan sebagai apresiasi untuk Liliyana karena telah membawa harum nama Indonesia di cabang bulutangkis. Butet sudah berkecimpung selama 24 tahun dan berhasil menyabet beberapa prestasi, salah satunya adalah medali perak dan perunggu di ajang Asian Games serta medali emas di Olimpiade 2016 di Rio De Janeiro, Brazil.

Pada turnamen ini, Liliyana Natsir akan dipasangkan kembali dengan Tontowi Ahmad sebagai ganda campuran wakil Indonesia. Pasangan yang akrab disapa Owi/Butet tersebut dijadwalkan akan bertanding melawan pasangan ganda campuran dari India yaitu Pranaav Jerry Chopra dan Reddy N. Sikki pada hari selasa 22/1/2019.

Setelah pensiun, rencananya Liliyana akan fokus pada bisnisnya. Atlet 33 tahun ini menjelaskan bahwa ia memiliki bisnis properti dan massage serta ia juga punya rencana membuka money changer. Ia berharap bisnis yang dijalani saat ini bisa sesukses karirnya di badminton. Sebenarnya, tawaran untuk membantu pelatnas datang kepadanya, namun ia ingin berhenti sejenak dari dunia badminton. Ia mengatakan bahwa menjadi pelatih dan pemain itu berbeda. Pemain hanya memikirkan diri sendiri dan berlomba untuk menjadi juara sedangkan pelatih harus memikirkan semuanya serta sabar dan telaten. Kedepannya, ia ingin menikmati liburan atau sekedar refreshing, bangun siang, makan yang lahap tapi yang jelas menepi dulu dari badminton.