Kalahkan Juventus 1-2, Ajax Menjadi Tim Penghancur Klub Besar di Liga Champions

Pertandingan perempat final leg kedua liga champions musim 2018-2019 telah menyajikan beberapa pemenang yang lolos ke tahap semifinal. Satu diantaranya adalah tim kuda hitam asal Belanda, Ajax Amsterdam. Ajax melaju ke semifinal setelah berhasil menaklukkan tim kuat pemegang banyak gelar scudetto yakni Juventus. Si nyonya tua secara mengejutkan tumbang di kandang sendiri dengan skor akhir 1-2, setelah sebelumnya hanya bisa bermain imbang 1-1 di Johan Kruyff Stadium, markas Ajax.

Dalam laga ini sebenarnya Juventus lebih diuntungkan, mengingat armada Massimiliano Allegri unggul agresifitas gol saat bertamu ke Amsterdam. Hasil seri 0-0 saja sebenarnya sudah mampu membawa mereka ke babak 4 besar. Namun, sayangnya semangat para pemain muda Ajax sepertinya mampu mengubah keadaan. Juventus terpaksa angkat kaki terlebih dulu dari kompetisi antar klub nomor satu di benua Eropa ini.

Jalannya Pertandingan Babak Pertama

Saat peluit babak pertama ditiupkan, Juventus selaku tuan rumah berupaya mengambil alih permainan serta sebanyak mungkin memegang penguasaan bola. Bahkan beberapa peluang emas berhasil mereka ciptakan dari kaki penyerang, terutama Cristiano Ronaldo. Pemain timnas Portugal tersebut beberapa kali mengkreasikan peluang namun masih belum berbuah gol.

Sementara bagi kubu Die Amsterdammer, mereka harus kehilangan salah satu pemain kuncinya di menit ke-11 yaitu Nuossair Mazraoi. Ia harus ditarik keluar lantaran mengalami cedera cukup parah. Ajax sendiri lebih menerapkan pola permainan serangan balik, mengingat Juventus memiliki persentase penguasaan bola lebih banyak. Ajax sempat mengancam melalui pemain lincahnya, Hakim Ziyech dan David Neres namun upayanya masih belum berhasil.

Ajax Melaju ke Semifinal Usal Taklukkan Juventus 1-2
Ajax Melaju ke Semifinal Usal Taklukkan Juventus 1-2

Juventus yang unggul dari segi permainan akhirnya dapat menciptakan gol terlebih dahulu melalui megabintang Cristiano Ronaldo. CR7 memanfaatkan umpan sepak pojok dari Miralem Pjanic, kapten Portugal tersebut lolos dari kawalan bek Ajax dan langsung menyundul bola yang mengarah kepadanya untuk diteruskan ke gawang.

Tak lama kemudian, Ajax yang semakin terpacu berbuat lebih setelah tertinggal sukses menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di menit ke-34. Van De Beek yang menerima umpan memanjakan dari Ziyech lolos dari jebakan offside, ia dengan mudahnya menaruh bola ke pojok kiri gawang yang dikawal Szczesny untuk menciptakan gol. Setelah gol tersebut, tidak ada lagi gol yang tercipta bagi kedua kubu hingga turun minum.

Ajax Memanas di Babak Kedua

Ajax yang berhasil menyamakan agregat terpacu untuk mencetak gol kedua mereka agar sulit dikejar oleh Juventus. Strategi di babak kedua terlihat Ajax lebih keluar menyerang, klub negri kincir angin tersebut beberapa kali mengancam gawang si nyonya besar. Sementara bagi Juventus, entah mengapa setelah gol pertama Ajax semangat tim hitam putih sedikit menurun, padahal peluang mereka masih terbuka lebar.

Terbukti, upaya menyerang Ajax berbuah hasil di menit 67 melalui sundulan pemain muda terbaik yakni Matthijs De Light. De Light sukses membalikkan keadaan menjadi 1-2 sekaligus mengubur peluang Juventus untuk melaju lebih jauh. Ia berhasil mengkonversikan umpan sepak pojok Lasse Schone, De Light yang diapit dua bek Juventus berhasil melompat lebih tinggi untuk menjangkau bola.

Setelah itu Ajax semakin menggila, semangat anak asuh Erik Ten Hag seperti tidak ada padamnya. Peluang-peluang yang berpotensi menjadi gol beberapa kali mereka ciptakan. Gol ketiga hampir saja mereka ciptakan jika saja Hakim Ziyech tidak berada di posisi offside, sepakan keras ia lesatkan ke sisi kiri gawang Szczesny. Skor 1-2 menutup laga ini untuk keunggulan publik Amsterdam, dengan ini mereka telah menghancurkan dua klub besar di liga champions setelah sebelumnya menyingkirkan juara bertahan, Real Madrid.

Klub-klub besar sebaiknya tidak boleh meremehkan kekuatan Ajax Amsterdam jika tidak ingin menjadi korban selanjutnya. Di semifinal nanti menarik untuk melihat kiprah Ajax selanjutnya, apakah mereka berhasil menjadi juara kembali setelah terakhir kali di raihnya pada tahun 1995.