Marc Marquez : Tidak Selamanya Yang Tercepat Yang Menang

Marc Marquez yakin jika Maverick Vinales menjadi yang tercepat di Australian MotoGP dan hal ini memaksa Marquez berpikir keras untuk mencegah Vinales meraih kemenangan di Sirkuit Phillip Island.

Pebalap yang baru saja resmi menggenggam gelar juara dunia MotoGP ini terus membukukan rekor dengan kemenangan ke-55 kalinya di kelas Premier, kemenangan ini bahkan melampaui catatan Mick Doohan. Marquez juga menjadi pebalap Honda tersukses dalam sejarah.

Kemenangannya di Australian MotoGP merupakan kemenangan kelima beruntun bagi Marquez dan menjadi yang kesebelas selama musim ini. Sebelumnya Marquez terlibat kejar – kejaran yang dramatis dengan Vinales yang berada di depan. Marquez tampaknya mengukur kecepatannya sendiri sebelum akhirnya memimpin di belokan pertama di putaran final.

Pebalap berusia 26 tahun ini akhirnya berhasil menyalip pebalap Yamaha Maverick Vinales di putaran terakhir. Maverick Vinales sendiri terjatuh dan tidak mampu melanjutkan balapan.

Sebelumnya saat sesi latihan dan kualifikasi Vinales tampil mendominasi menjadi yang tercepat. Hal ini diakui Marquez bahwa Vinales lebih cepat darinya sehingga karena itulah Marquez kemudian mencari strategi baru untuk mengalahkan Vinales.

“Perbedaan kecepatan sebelum balapan sangat besar. Namun ini adalah sirkuit dimana slipstream mudah untuk dilakukan dan sangat membantu. Jadi, perbedaannya memang besar tapi dengan slipstream akan sangat membantu saya.” Ujar Marquez

“Saya menggunakan slipstreamnya yang merupakan satu-satunya kesempatan untukku karena Ia (Maverick Vinales) lebih cepat dibandingkan saya, namun kadang kala yang tercepat malah tidak memenangkan balapan. Dan saat ini adalah waktunya.”

“Kadang kala ini satu – satunya kesempatan di pertarungan putaran terakhir. Hari ini yang tercepat adalah Vinales tapi saya tahu sebelum balapan dia mengalami hal yang cukup krusial di putaran kelima atau keenam dengan terlalu mendorong, dia mencapai 1m29s yang merupakan waktu kualifikasiku, namun saya mampu mengikutinya dengan batasanku sendiri.”

“Saya terus berusaha berada di depan dan kemudian saya mulai menganalisa dan mengecek keadaan ban. Namun walaupun begitu saya masih tidak yakin karena Vinales terlalu cepat.”

Marquez awalnya tidak menyadari jika Vinales telah terjatuh di belokan 10 hingga Ia melihat bendera tanda. Marquez bahkan telah merencanakan strategi untuk menyerang jika seandainya Vinales mengejarnya.

“Di putaran terakhir saya berencana untuk menyalipnya di lintasan lurus lalu mencoba menutup semua celah untuknya.”

“Saya tidak tahu kalau Vinales telah terjatuh namun saya masih berpikir punya kesempatan kedua sebelum garis finish untuk menyalipnya.”

Berkaca pada strategi balapannya, Marquez mengatakan lebih memilih untuk mengikuti pebalap yang terdepan saat Ia merasa tidak memiliki kecepatan untuk berada paling depan.

Ini artinya balapan kali sama polanya pada saat Marquez melawan Fabio Quartararo di Misano dan Buriram awal musim ini yang mana Marquez saat itu baru bergerak di putaran terakhir.

Walaupun sepertinya Marquez tampak terkendali berada di belakang Vinales, juara dunia delapan kali ini mengakui pilihan bannya merupakan keputusan berjudi bersama kepala mekanik Santi Hernandez.

“Saya tahu hari ini jarak dengan Vinales terlalu jauh. Emilio (Alzamora, manajer Marquez) mengingatkanku untuk berhati – hati di lintasan karena terlalu cepat dan kemungkinan saya terjatuh.”

“Bersama Santi kami akhirnya memilih ban lunak walaupun saya tidak mengetahui pilihannya tapi saya memang menginginkan ban lunak agar saya dapat bertahan hingga akhir balapan. Jika Saya tidak mengikutinya Saya mungkin akan bersama – sama Cal Crutchlow dan lainnya.”