Real Madrid : Persaingan Di Fase Grup Semakin Sulit

Real Madrid : Persaingan Di Fase Grup Semakin Sulit

Klub sepakbola kebanggaan warga kota Madrid, Spanyol, Real Madrid tampaknya mengalami masa sulit di peta persaingan fase grup Liga Champion. Dalam sejarah keikutsertaanya di Liga Champion, fase grup musim 2019 – 2020 ini terhitung sebagai awal yang telat untuk Real Madrid.

Klub besutan Zinedine Zidane ini mengawali fase grupnya bulan lalu dengan menjadi tamu wakil Paris, Paris Saint German di stadion Le Parc des Princes, Prancis. Laga tandang tersebut berakhir dengan kemenangan PSG 3 – 0.

Dua gol tercipta dari Angel Di Maria pada menit ke 14 dan menit ke 33. Sementara gol penutup lahir dari Thomas Meunier, pemain asal Belgia di menit – menit akhir pertandingan. Sementara Madrid pulang dengan tangan kosong.

Angin segar berhembus pasca kekalahan telak dari PSG. Real Madrid sukses memenangkan dua laga berikutnya serta bermain seri di kompetisi liga. Belum cukup seminggu dari kekalahannya di Paris, Madrid berhasil menang kala bertemu Sevilla dan Osasuna serta berakhir seri saat melawan Atletico Madrid.

Setidaknya tren positif di kompetisi lokal tersebut mampu memberikan semangat positif bagi barisan pemain Madrid sebelum menggelar pertandingan kedua melawan Club Brugge.

Namun apa hendak dikata, nasib baik Real Madrid tidak berlanjut. Menghadapi klub besutan Philippe Clement, Madrid kembali gagal mencuri kemenangan untuk memperbaiki posisi mereka di grup A.

Madrid harus rela membagi skor sama 2 – 2 melawan Club Brugge. Club Brugee bahkan mencetak gol pembuka saat pertandingan baru berjalan sekitar sembilan menit lewat pemain bernomor punggung 42, Emmanuel Bonaventure.

Pemain asal Nigeria ini bahkan kembali membobol gawang Madrid yang berusaha dijaga oleh Thibaut Courtois. Gol kedua Bonaventure terjadi pada menit ke 39. Madrid mendapatkan kesempatan untuk membobol gawang lawan pada menit ke 55 lewat Sergio Ramos.

Lima menit menjelang berakhirnya pertandingan Madrid kembali menambah perolehan golnya lewat Casemiro. Setidaknya pertandingan yang berakhir seri masih lebih baik bagi Madrid daripada kembali menderita kekalahan.    

Bermain di kandang sendiri tampaknya tidak banyak membantu bagi Madrid. Lawan pun tidak terpengaruh secara mental. Bahkan ketika Club Brugge hanya bermain dengan 11 pemain akibat Ruud Vormer dikeluarkan dari lapangan pada menit ke 84.

Tidak dapat dipungkiri, sejak awal fase grup Madrid memang tampil tidak meyakinkan seperti biasanya. Saat menjamu Club Brugge terlihat banyak ruang kosong yang tercipta di lapangan.

Bola – bola yang diarahkan ke pemain sendiri sangat mudah dicegat oleh pemain lawan. Serangan – serangan yang diciptakan pun tidak mematikan. Hal ini membuat barisan pertahanan Club Brugge tampak seperti rubik yang sulit dipecahkan.

Satu kali kalah dan satu kali seri telah menempatkan Madrid di posisi paling bawah grup apalagi jika kembali gagal meraih kemenangan. Laga berikutnya melawan Galatasaray pada tanggal 23 Oktober mendatang haruslah dimenangkan oleh Real Madrid jika tidak ingin semakin terpuruk.